Jejak Sunyi Seorang Guru: Warisan Ilmu, Moderasi, dan Kemanusiaan Umar Shihab


Oleh: Hafid Abbas, Guru Besar UNJ

Fajar.co.id – Sesaat setelah mengetahui jika Prof Umar Shihab, Pembina Yayasan UMI Makassar, telah berpulang pada 20 Maret 2026, saya mengabari kakak saya Halim Abbas atas kepergiannya. Halim adalah mahasiswa Prof Umar di IAIN Ujung Pandang (UIN Alauddin Makassar) pada pertengahan hingga akhir 70-an. Dari dialog dengan beliau, saya menulis refleksi singkat ini. Kepergian Prof Umar bukan sekadar kabar duka, melainkan penanda berakhirnya satu mata rantai penting dalam tradisi intelektual Islam Indonesia—khususnya yang tumbuh dari rahim institusi Pendidikan Islam di Indonesia Timur. Dalam lanskap keilmuan yang kerap terjebak pada polarisasi, sosoknya justru hadir sebagai jembatan: antara teks dan konteks, antara lokalitas nilai-nilai budaya Bugis dan cakrawala global, serta antara otoritas keilmuan dan realitas kehidupan sosial.

Lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada 2 Juli 1939, Umar Shihab tumbuh dalam keluarga yang menjadikan ilmu sebagai napas kehidupan. Ayahnya, Abdurrahman Shihab, bukan hanya seorang ulama, tetapi juga arsitek pendidikan Islam modern di kawasan timur Indonesia. Dari tangan beliau lahir institusi penting yang membentuk generasi Muslim terdidik. Lingkungan keluarga ini bukan sekadar latar, melainkan fondasi yang membentuk watak intelektual Umar: tekun, terbuka, dan berorientasi pada pengabdian.

Ia tidak sendiri dalam orbit keluarga yang sarat prestasi. Bersama saudara-saudaranya—Quraish Shihab yang dikenal luas sebagai mufasir terkemuka, Alwi Shihab yang menapaki jalur diplomasi dan politik nasional, serta Nizar Shihab di bidang Kesehatan,Dokter Ahli Mata —Umar berada dalam satu konstelasi keluarga yang menjadikan ilmu sebagai jalan hidup. Namun, di antara mereka, Umar memiliki corak tersendiri: lebih sunyi dari sorotan publik, tetapi kuat dalam pengaruh akademik dan pembinaan tradisi berpikir.Jejak intelektualnya semakin kokoh ketika ia menempuh pendidikan di Universitas AlAzhar, Kairo. Di sanalah ia tidak hanya menyerap khazanah klasik Islam, tetapi juga mengalami perjumpaan dengan keragaman dunia Muslim. Pengalaman ini membentuk perspektifnya yang luas, moderat dan inklusif. Ia memahami bahwa Islam bukanlah monolit, melainkan tradisi hidup yang selalu berdialog dengan konteks sosial dan sejarah.


PakarPBN


A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites. In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website. The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.


Jasa Backlink
Download Anime Batch